Dunia literasi di era modern tidak lagi terbatas pada media cetak konvensional, melainkan telah merambah ke ranah platform digital yang jauh lebih dinamis. Melalui penyelenggaraan Workshop Literasi yang inovatif, SMPN 265 Jakarta berupaya membekali para siswanya dengan keterampilan komunikasi visual dan tekstual yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif saat ini. Kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan disinformasi di media sosial dengan melatih siswa menjadi produsen informasi yang bertanggung jawab dan beretika. Dengan bimbingan dari para praktisi media, para peserta didik diajak untuk mengeksplorasi potensi diri dalam merangkai kata dan visual menjadi sebuah karya yang bermakna di tahun 2026.
Langkah awal dari pelatihan ini difokuskan pada penguatan dasar-dasar jurnalistik, mulai dari teknik pencarian berita, wawancara, hingga penulisan opini yang berbobot. Siswa diajarkan bagaimana membedakan antara fakta dan opini agar karya yang dihasilkan memiliki kredibilitas yang tinggi di mata pembaca. Proses kreatif ini melibatkan diskusi kelompok yang intens, di mana setiap siswa didorong untuk berani menyuarakan ide-ide segar mereka tanpa rasa takut salah. Keberanian dalam berekspresi merupakan modal utama bagi seorang calon jurnalis muda untuk dapat menghasilkan konten yang autentik dan mampu memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekolahnya.
Salah satu sesi yang paling diminati oleh para peserta adalah Pelatihan Mading Digital yang menggunakan berbagai aplikasi desain grafis populer. Transformasi majalah dinding dari bentuk fisik ke format digital memungkinkan penyebaran informasi menjadi lebih cepat, luas, dan ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan kertas secara signifikan. Siswa belajar tentang komposisi warna, pemilihan tipografi, hingga tata letak yang menarik agar pembaca betah berlama-lama menyimak informasi yang disajikan. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk menghidupkan kembali budaya membaca di kalangan remaja yang cenderung lebih menyukai konten visual yang estetik.
Selain aspek teknis, workshop ini juga menekankan pentingnya riset mendalam sebelum sebuah informasi dipublikasikan ke khalayak luas. Para instruktur memberikan simulasi mengenai cara memverifikasi sumber data agar konten yang dibuat tidak mengandung unsur hoaks atau provokasi yang merugikan pihak lain. Literasi digital bukan hanya soal kecanggihan alat, tetapi lebih kepada kebijaksanaan pengguna dalam mengelola informasi yang mereka terima dan sebarkan. Dengan pemahaman yang matang mengenai etika digital, diharapkan para siswa SMPN 265 dapat menjadi contoh bagi rekan sebaya mereka dalam menggunakan media internet secara bijak dan produktif.
