Masalah genangan air atau banjir tahunan sering kali menjadi kendala bagi banyak Sekolah Bebas Banjir di wilayah dataran rendah Jakarta, terutama saat musim penghujan tiba. SMPN 265 Jakarta menghadapi tantangan ini dengan cara yang sangat kreatif dan solutif melalui pengembangan sistem pertanian yang adaptif terhadap perubahan ketinggian air. Alih-alih hanya mengandalkan saluran drainase konvensional yang sering kali tersumbat, sekolah ini menciptakan sebuah laboratorium hijau di atas air. Pendekatan ini lahir dari pemikiran bahwa air tidak seharusnya dianggap sebagai musuh yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan sekolah.
Konsep utama yang diusung adalah pembuatan instalasi pertanian yang mampu menyesuaikan diri dengan fluktuasi air di area resapan sekolah. Menggunakan material rakit yang ringan namun kuat, para siswa dan guru merancang sebuah media tanam yang mengapung di atas kolam atau area cekungan sekolah. Dengan teknologi kebun apung ini, tanaman tidak akan mati karena busuk akar saat air meluap, karena posisi media tanam akan selalu berada di atas permukaan air. Inisiatif ini membuktikan bahwa sekolah dapat tetap produktif dalam memproduksi oksigen dan sumber makanan meskipun berada di area yang rawan terhadap gangguan iklim dan cuaca ekstrem.
Langkah ini memiliki dampak ganda bagi lingkungan sekolah. Pertama, keberadaan tanaman di atas air membantu menyerap nutrisi berlebih di dalam air yang bisa memicu pertumbuhan lumut atau eceng gondok yang tidak terkendali. Kedua, sistem ini menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih tangguh. Dengan mengintegrasikan sistem ini ke dalam kurikulum prakarya, siswa belajar mengenai prinsip archimedes secara praktis melalui pembuatan rakit tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah inovasi tidak harus selalu mahal, namun harus tepat guna dan menjawab persoalan nyata yang dihadapi oleh komunitas sekitarnya.
Keberlanjutan dari proyek ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif para siswa dalam melakukan perawatan rutin. Setiap pagi, kelompok siswa yang bertugas akan memeriksa stabilitas rakit dan memastikan tanaman mendapatkan nutrisi cair yang cukup. Jenis tanaman yang dipilih pun sangat beragam, mulai dari tanaman herbal hingga sayuran daun yang memiliki nilai konsumsi tinggi. Dengan keberhasilan sistem ini, SMPN 265 kini dikenal sebagai sekolah yang tidak hanya mampu bertahan dari ancaman air, tetapi juga mampu mencapai visi menjadi sekolah bebas hambatan lingkungan. Edukasi ini sangat penting untuk menanamkan kesadaran pada generasi muda tentang pentingnya adaptasi terhadap perubahan lingkungan global.
