Memasuki fase krusial dalam kalender akademik, tekanan yang dirasakan oleh para pelajar tingkat akhir seringkali mencapai puncaknya. Menyadari fenomena tekanan mental yang kian meningkat, SMPN 265 Jakarta mengambil langkah preventif yang sangat progresif dengan meluncurkan sebuah inisiatif bernama Program ‘Self Care’. Program ini dirancang khusus untuk memberikan ruang napas bagi para siswa di tengah padatnya jadwal bimbingan belajar dan persiapan materi yang menguras energi serta pikiran mereka setiap harinya.
Kondisi stres berkepanjangan atau yang sering dikenal dengan istilah Burnout Siswa menjadi perhatian utama para pendidik di sekolah ini. Gejala kelelahan mental ini biasanya ditandai dengan penurunan motivasi, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan emosional yang jika dibiarkan dapat berdampak buruk pada hasil ujian mereka. Melalui pendekatan yang lebih humanis, pihak sekolah ingin memastikan bahwa kesuksesan akademis tidak harus dibayar dengan kesehatan mental yang terganggu. Oleh karena itu, kurikulum harian disisipi dengan sesi relaksasi dan manajemen stres.
Implementasi program ini dilakukan secara rutin di lingkungan SMPN 265 dengan melibatkan para ahli psikologi remaja dan konselor sekolah. Siswa diajarkan teknik pernapasan, meditasi ringan, serta cara mengatur waktu yang lebih efisien agar mereka tetap memiliki waktu untuk istirahat yang berkualitas. Selain itu, terdapat sesi diskusi kelompok di mana para siswa dapat saling berbagi kekhawatiran mereka tanpa merasa dihakimi. Lingkungan yang suportif seperti ini terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan sebelum menghadapi hari besar ujian.
Ujian akhir seringkali dianggap sebagai hantu yang menakutkan, namun dengan kesiapan mental yang matang, tantangan tersebut dapat dihadapi dengan lebih tenang. Strategi sekolah dalam menghadapi fase Menjelang Ujian Akhir ini juga mencakup edukasi Self Care bagi para orang tua agar tidak memberikan tekanan berlebih di rumah. Kolaborasi antara sekolah dan rumah menjadi kunci agar siswa merasa didukung dari segala sisi. Fokusnya bukan lagi sekadar mendapatkan nilai tertinggi, melainkan bagaimana siswa bisa memberikan kemampuan terbaik mereka dalam kondisi fisik dan jiwa yang prima.
