Kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup saat ini telah menjadi materi pendidikan yang setara pentingnya dengan ilmu pengetahuan umum lainnya. Sekolah, sebagai institusi yang membentuk karakter generasi mendatang, memegang peranan sentral dalam menanamkan nilai-nilai ekologis sejak dini. Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis limbah global, sebuah inisiatif bernama Green School Policy mulai diterapkan secara disiplin di lingkungan SMPN 265. Kebijakan ini bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan sebuah komitmen kolektif untuk mengubah perilaku seluruh warga sekolah agar lebih peduli terhadap jejak karbon yang mereka hasilkan sehari-hari.
Salah satu pilar utama dari kebijakan hijau ini adalah program untuk mengelola bank sampah yang dilakukan secara mandiri oleh para siswa. Setiap kelas memiliki tanggung jawab untuk memilah sampah mereka sendiri ke dalam kategori organik, anorganik, dan residu. Sampah plastik, kertas, dan kaleng yang terkumpul kemudian ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan bank sampah kelas. Hasil dari penjualan sampah yang telah terpilah ini tidak hanya membantu kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan edukasi mengenai ekonomi sirkular. Siswa belajar bahwa barang yang dianggap sudah tidak berguna sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan sistem yang benar dan terorganisir.
Selain pengelolaan limbah, sekolah ini juga sangat ketat dalam menjalankan program diet plastik di seluruh area kantin dan ruang guru. Penggunaan plastik sekali pakai, seperti sedotan, kantong kresek, dan styrofoam, telah dilarang sepenuhnya. Sebagai gantinya, para siswa diwajibkan membawa botol minum (tumbler) dan wadah makan sendiri dari rumah. Untuk mendukung hal ini, sekolah menyediakan banyak titik pengisian air minum gratis yang higienis. Perubahan kebiasaan ini awalnya memang terasa sulit, namun seiring berjalannya waktu, para siswa justru merasa bangga karena mampu mengurangi produksi sampah plastik secara signifikan setiap harinya.
Bagi warga SMPN 265, lingkungan sekolah yang asri dan bersih adalah hasil dari kerja keras bersama. Pendidikan lingkungan tidak hanya dilakukan di dalam kelas melalui teori, tetapi dipraktikkan langsung di lapangan. Guru-guru di sekolah ini menjadi teladan utama dalam penerapan pola hidup minim sampah. Ketika siswa melihat guru mereka konsisten menggunakan wadah pakai ulang dan aktif memilah sampah, mereka akan lebih mudah untuk meniru perilaku tersebut. Inilah yang disebut sebagai pendidikan karakter berbasis keteladanan, di mana nilai-nilai lingkungan meresap ke dalam sanubari siswa melalui aktivitas rutin yang konsisten dan berkelanjutan.
