Dunia sains di tingkat sekolah menengah sering kali dianggap sebagai kurikulum yang penuh dengan rumus-rumus membosankan di atas kertas. Namun, paradigma tersebut berhasil dipatahkan oleh para siswa di SMPN 265 dalam ajang Science Fair yang diselenggarakan pada tahun 2026. Alih-alih hanya menampilkan proyek sederhana seperti gunung berapi dari soda kue, mereka justru melakukan serangkaian kegiatan yang banyak disebut sebagai eksperimen gila karena keberanian mereka mengeksplorasi teknologi di luar batas kemampuan siswa SMP pada umumnya. Fokus utama mereka adalah menjawab tantangan global mengenai krisis sumber daya dengan mencoba berbagai cara untuk memproduksi listrik secara mandiri.
Salah satu proyek yang paling mencuri perhatian adalah upaya tim peneliti muda ini untuk menciptakan generator yang memanfaatkan limbah organik cair yang telah difermentasi sedemikian rupa. Di bawah bimbingan guru sains yang visioner, siswa SMPN 265 berhasil merancang sebuah alat prototipe yang mampu mengubah gas hasil penguraian limbah menjadi tenaga penggerak turbin mikro. Meskipun pada awalnya banyak yang meragukan tingkat keberhasilannya, ketekunan siswa dalam melakukan uji coba berulang kali akhirnya membuahkan hasil. Mereka menunjukkan bahwa rasa ingin tahu yang besar, jika diarahkan dengan metode ilmiah yang tepat, dapat menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi masyarakat luas.
Pencarian untuk temukan energi baru tidak berhenti di situ. Kelompok siswa lainnya memamerkan inovasi berupa ubin piezoelektrik yang dipasang di sepanjang koridor sekolah. Prinsip kerjanya cukup unik: setiap langkah kaki siswa yang melewati koridor tersebut akan dikonversi menjadi energi kinetik yang kemudian disimpan ke dalam baterai sentral. Inovasi ini sangat relevan dengan tahun 2026 Science Fair, di mana efisiensi energi menjadi prioritas utama di kota-kota besar seperti Jakarta. Para pengunjung pameran dibuat takjub dengan bagaimana konsep fisika yang rumit bisa diaplikasikan secara sederhana namun fungsional dalam lingkungan sehari-hari sekolah.
Kegiatan sains seperti ini memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar mendapatkan nilai akademik. Siswa belajar tentang manajemen proyek, cara mengatasi kegagalan saat eksperimen tidak berjalan sesuai rencana, dan pentingnya kerja sama tim. Mereka dipaksa untuk berpikir kritis dan mencari solusi atas masalah teknis yang muncul di lapangan. Keterampilan-keterampilan inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh generasi masa depan untuk bersaing di kancah internasional. Pihak sekolah menyadari bahwa memberikan kebebasan bagi siswa untuk melakukan eksplorasi adalah cara terbaik untuk memunculkan bakat-bakat ilmuwan muda sejak dini.
