Perubahan iklim dan degradasi lingkungan hidup telah menjadi isu global yang menuntut aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. Di tengah gempuran tren belanja daring yang memicu perilaku konsumtif, pemahaman mengenai Edukasi Konsumsi yang berkelanjutan menjadi sangat mendesak. Bagi para siswa di SMP Negeri 265, belajar menjadi konsumen yang cerdas bukan hanya soal menghemat uang saku, melainkan tentang memahami dampak ekologis dari setiap produk yang mereka beli. Kesadaran akan asal-usul barang, proses produksi, hingga limbah yang dihasilkan adalah langkah awal menuju pelestarian bumi yang lebih baik.
Implementasi gaya hidup ramah lingkungan ini sering kali dikaitkan dengan konsep kesederhanaan. Dalam konteks remaja, menerapkan prinsip Hijau dalam keseharian bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga memilih produk yang memiliki kemasan ramah lingkungan. Di SMP Negeri 265, para siswa diajak untuk melihat bahwa keren tidak harus berarti memiliki barang mewah atau mengikuti setiap tren mode terbaru. Sebaliknya, keren adalah ketika seseorang mampu bertanggung jawab atas jejak karbon yang mereka tinggalkan di planet ini.
Salah satu pilar utama yang diperkenalkan dalam program ini adalah filosofi Minimalis sebagai solusi atas budaya buang-buang. Gaya hidup ini mengajarkan siswa untuk mengevaluasi kebutuhan vs keinginan. Sebelum membeli barang baru, siswa diajak untuk bertanya pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau sekadar pemuas keinginan sesaat. Dengan membatasi kepemilikan barang pada hal-hal yang benar-benar esensial, siswa belajar untuk lebih menghargai apa yang mereka miliki, mengurangi tumpukan sampah di rumah, dan secara tidak langsung menekan permintaan industri yang merusak alam.
Lingkungan sekolah di SMP Negeri 265 menjadi wadah praktik yang ideal untuk menanamkan nilai-nilai ini. Melalui kantin sekolah yang mulai membatasi penggunaan bungkus plastik dan adanya bank sampah sekolah, siswa belajar bahwa ekonomi sirkular bisa dimulai dari bangku sekolah. Mereka tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga melihat bagaimana pengelolaan sampah yang benar dapat memberikan nilai tambah. Pendidikan ini membentuk pola pikir bahwa lingkungan hidup bukanlah warisan nenek moyang yang boleh dihabiskan, melainkan titipan anak cucu yang harus dijaga keasriannya.
