Membangun budaya membaca di kalangan remaja memerlukan pendekatan yang lebih segar dan relevan dengan tren yang sedang berkembang saat ini. Melalui kegiatan diskusi literasi yang diadakan di perpustakaan sekolah, para siswa diajak untuk menyelami lebih dalam pemikiran kreatif dari tokoh-tokoh sastra di sekitar mereka. Acara kali ini menjadi sangat istimewa karena fokus utamanya adalah melakukan bedah buku dari seorang sastrawan muda berbakat asal ibu kota yang baru saja merilis karyanya. Di tengah gempuran informasi digital, sekolah merasa perlu membimbing siswa agar tetap kritis dalam menyerap konten, termasuk bagaimana cara bijak gunakan sosmed agar tetap memberikan pengaruh positif bagi perkembangan mental mereka. Dengan menghadirkan narasi dari penulis lokal Jakarta, diharapkan para siswa tidak hanya menjadi pembaca yang pasif, tetapi juga terinspirasi untuk mulai menuliskan gagasan mereka sendiri.
Kegiatan literasi di SMPN 265 Jakarta ini tidak hanya sekadar duduk dan mendengarkan, melainkan sebuah ruang dialektika yang aktif. Siswa diberikan kesempatan untuk mengulas setiap bab, mendiskusikan penokohan, hingga menganalisis latar belakang sosial yang diangkat dalam buku tersebut. Pemilihan buku karya penulis lokal bertujuan agar para siswa merasa memiliki kedekatan emosional dengan latar cerita yang seringkali mengambil setting di sudut-sudut kota Jakarta yang mereka kenal sehari-hari. Hal ini membuat proses literasi menjadi jauh lebih menarik karena siswa merasa cerita yang mereka baca adalah bagian dari kehidupan nyata mereka.
Dalam sesi diskusi, guru pembimbing menekankan bahwa kemampuan literasi adalah kunci utama dalam memenangkan persaingan di masa depan. Membaca buku membantu meningkatkan kosa kata, memperbaiki struktur logika berpikir, serta melatih daya imajinasi yang tidak bisa didapatkan hanya melalui tontonan durasi pendek. Penulis lokal yang hadir sebagai narasumber juga membagikan tips mengenai proses kreatif, mulai dari mencari ide hingga cara konsisten dalam menulis di tengah kesibukan. Interaksi langsung ini memberikan dampak psikologis yang luar biasa bagi siswa yang memiliki minat dalam bidang kepenulisan.
Selain itu, sekolah juga mengintegrasikan hasil diskusi ini ke dalam tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Siswa diminta untuk membuat resensi buku yang tidak kaku, melainkan lebih bersifat personal dan ekspresif. Dengan metode ini, sekolah ingin menghapus stigma bahwa literasi adalah kegiatan yang membosankan dan kuno. Sebaliknya, literasi adalah gaya hidup modern yang menunjukkan intelektualisme seseorang. Perpustakaan sekolah kini bertransformasi menjadi pusat komunitas belajar yang hidup, tempat di mana ide-ide baru lahir setiap harinya melalui diskusi-diskusi hangat antar siswa.
