Pendidikan di luar kelas yang bersifat praktis sering kali memberikan dampak jangka panjang bagi pemahaman siswa. Di SMP Negeri 265, kegiatan berkebun tidak lagi hanya dipandu oleh guru, tetapi melibatkan mentor berpengalaman, yaitu para petani lokal yang memiliki jam terbang tinggi dalam mengelola lahan produktif. Melibatkan praktisi secara Belajar Langsung memberikan dimensi baru bagi siswa, di mana mereka tidak hanya mempelajari teori biologi, melainkan juga teknik nyata yang digunakan dalam dunia pertanian sehari-hari.
Pengalaman berharga ini menjadi kunci utama dalam mengubah perspektif siswa. Banyak di antara mereka yang sebelumnya menganggap pertanian sebagai aktivitas kuno, kini justru melihatnya sebagai sebuah seni dan ilmu pengetahuan yang kompleks. Dengan mendengarkan cerita dari tangan pertama, para siswa memahami bahwa lokal wisdom atau kearifan lokal dalam bertani adalah aset yang sangat berharga. Petani tersebut berbagi tips tentang bagaimana membaca cuaca, mengenali jenis tanah, dan mengatasi serangan hama tanpa harus bergantung sepenuhnya pada bahan kimia berbahaya.
Proses belajar ini dilakukan secara kolaboratif di lahan kebun sekolah yang telah disulap menjadi area produktif. Para siswa tidak hanya mengamati, tetapi juga ikut turun langsung mempraktikkan cara mencangkul, menyemai bibit, hingga melakukan penyiraman dengan teknik yang efisien. Kehadiran mentor dari luar lingkungan sekolah memberikan suasana yang lebih profesional dan menantang. Siswa merasa tertantang untuk melakukan yang terbaik karena mereka sedang belajar langsung dari ahlinya yang sehari-hari berkecimpung di bidang tersebut.
Dampak pengalaman bagi para siswa ini sangat signifikan dalam membentuk karakter kerja keras dan ketekunan. Mereka menyadari bahwa kesuksesan dalam memanen tanaman bukan datang dalam semalam, melainkan melalui proses panjang yang penuh tantangan. Selain itu, interaksi dengan petani lokal membangun jembatan emosional dan sosial. Siswa mulai mengerti bahwa profesi ini layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya karena perannya yang krusial dalam kedaulatan pangan nasional.
Bagi SMP Negeri 265, kolaborasi ini adalah bentuk nyata dari kurikulum yang adaptif dan inklusif. Guru dapat fokus pada aspek pedagogis, sementara petani lokal memberikan pengayaan materi yang bersifat aplikatif. Siswa diajarkan untuk menghargai setiap langkah dalam proses produksi pangan, yang pada akhirnya menumbuhkan sifat rendah hati dan penuh rasa syukur. Kegiatan ini juga menjadi simulasi bagaimana membangun jaringan kerja sama dengan komunitas luar sekolah, sebuah keterampilan yang akan sangat berguna bagi siswa di masa depan saat mereka memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi maupun dunia profesional.
